Skip to content

Hasil Diskusi dengan Yamaha, Leopold Blog dan R25 User Terkait Isyu Penurunan Tenaga R25 Versi Produksi Massal

23/07/2014

image

Kemarin akhirnya pihak Yamaha bertemu dengan om Leo, author 7leopold7.com. Pertemuan ini sekaligus acara berbuka puasa di bilangan Jakarta selatan.

Berikut report dari Om Leo

Bro dan Sis, mohon maaf baru bisa upload artikel ini. Maklum hari kerja.
Pertemuan dengan Pak Abidin dan tim teknis YIMM berlangsung kemarin sore di bilangan Jakarta Selatan. Sembari berbuka puasa, diskusi berjalan dengan terbuka dan baik. Kedua belah pihak bisa menerima hasil pilpres dengan legowo dan tidak adabyang meminta pembahasan diulang. Halahh iki opo.

Selain saya, hadir pula bro Bie Hau (Indener No. 001 R25), bro Murray (R25 Owners Community, buat yang ingin join mari klik berita ini ) dan bro Imam (blogger http://bengkelsepedamotor.com/ merangkap mekanik andalan importer moge Eropa).

Saya membuka diskusi dengan menjelaskan kronologi dan alasan saya menulis artikel tentang pemotongan tenaga R25 versi produksi massal.

Pak Abidin pun kemudian menjelaskan bahwa jawaban yang beliau berikan ke media adalah on-the-go , tanpa sebelumnya sempat membaca blog saya. Itu sebabnya jawabannya terkesan general dan tidak berhubungan dengan pertanyaan yang saya ajukan.

Pak Abidin menjelaskan duduk persoalan kurang lebih sebagai berikut (kalau ada catatan saya yang tidak tepat mohon rekan-rekan lain yang hadir mengkoreksi) :
Pada saat pre-production, Yamaha melakukan pengujian lapangan terhadap sejumlah unit test R25
yang diset memiliki konfigurasi yang berbeda. Diuji di berbagai wilayah di Indonesia dengan kondisi topografi, suhu dan kelembapan, ketersediaan bahan bakar, serta variable lain yang beraneka ragam.

Informasi yang masuk dari konfigurasi yang berbeda ini digunakan untuk melakukan penyesuaian terhadap versi final produksi massal. Kebetulan yang
dipinjamkan kepada Otomotif Grup untuk pengetesan jalan raya (akhir Mei s.d. awal Juni) adalah R25 dengan salah satu konfigurasi yang ada, karena versi produksi massal memang belum
tersedia.

YIMM sendiri berpegang pada statement resmi tenaga R25 adalah 36ps on crank. Baik pada brosur
resmi, siaran pers ataupun pernyataan lain, YIMM tidak pernah menyatakan bahwa tenaga R25 adalah x HP on wheel. Hasil test di berbagai media yang menunjukkan angka on wheel adalah merupakan hasil jurnalistik media tersebut, bukan advertorial
dari YIMM. Jadi data Otomotif yang menunjukkan angka 29 HP (6 Juni 2014) atau data Motorplus yang mengindikasikan angka 27.38 HP (22 Juni 2014) tidak dapat di jadikan acuan bahwa unit produksi masal harus memiliki daya demikian, karena memang bukan statement resmi Yamaha. Pak Abidin mengkonfirmasi bahwa untuk semua unit mass production hanya memiliki satu konfigurasi final. Unit yang saya miliki adalah settingan mass production yang final dan harusnya sama dengan
yang lain. Pada saat service pertama, tidak akan dilakukan perubahan setting ECU selain CO. Apabila konsumen R25 merasakan ada masalah YIMM
lanjut Pak Abidin terbuka untuk menerima dan memeriksa keluhan konsumen R25 jika ada masalah.

Pilihannya buat saya sebagai konsumen yang juga
kebetulan praktisi hukum:
1. Kecuali saya bisa membuktikan power on crank tidak sebesar 36ps atau 35 HP, i dont have a case. Karena untuk data power on wheel Yamaha, yang saya dapat data pembandingnya, memang tidak pernah mengeluarkan angka resmi (tolong dikoreksi kalau salah).
2. Data power puncak yang dikeluarkan oleh Otomotif (29 HP) dan Motorplus (27 HP) tidak bisa saya jadikan dasar untuk menggugat bahwa telah terjadi pelanggaran terhadap hak saya yang dilindungi oleh UU Perlindungan Konsumen (8/1999) pasal 4 huruf b dan c. Pasal tersebut menjamin hak saya untuk mendapatkan barang sesuai kondisi yang dijanjikan.

image

Bersumber dari artikel om Leo, memang Yamaha tidak salah dimata hukum, karena hasil BHP (Brake Horse Power) versi Otomotif bukan statement dari Yamaha.

Tapiii…..
Ini sebaiknya jadi bahan pembelajaran bagi produsen motor untuk lebih teliti dengan strategy marketingnya, terutama di kelas flagship, kesalahan Yamaha dengan meminjamkan unit test kepada pihak media dengan menggunakan test spec bukan production spec. Dimana pihak media pun akan mengeksplore motor tersebut dengan berbagai parameter. Jadi hasil dari media tersebut tersebar luas, dan akan diyakini oleh masyarakat bahwa motor yang dijual akan sama dengan hasil test media. Padahal spec itu akan berbeda dengan production spec. Akhirnya… Terjadilah kasus ini dan ini jelas telah mencoreng nama Yamaha

image

Seperti yang telah saya tulis di artikel sebelumnya, ‘orang yang rela mengeluarkan uang lebih dari 50 juta adalah orang yang pintar, dimana mereka sudah melek teknologi’

Sumber : 7leopold7.com

Iklan
14 Komentar leave one →
  1. 23/07/2014 5:03 PM

    hasilnya tambah disunat… πŸ˜†

    Suka

  2. 23/07/2014 6:22 PM

    Supit

    Suka

  3. 23/07/2014 6:53 PM

    jadi inget klinik tong fang #ngoahahahahaha

    Suka

  4. 23/07/2014 6:58 PM

    Kirain akan dibilang ok nanti produksi r25 yg lain dinaikkan lagi he he
    http://bikeaddict14.wordpress.com/2014/07/23/bmw-r-ninet-meluncur-di-india-harganya-wow/

    Suka

  5. 24/07/2014 12:22 AM

    Coba kita ambil dari analogi helm…

    Ada pabrikan helm mengeluarkan helm tipe terbaru. Selagi masih test unit dipinjamkan ke media yang berbahan dasar karbon, dites lah dengan berbagai macam variabel. Dimulai dari kenyamanan, aerodinamis, bobot serta tes benturan. Hasilnya pihak media mengatakan ini helm recomended sekali, akhirnya orang pada berebut inden.

    Eh begitu ini helm sampai di tangan konsumen, ternyata cuma dibuat berbahan dasar fiber yang boleh dibilang setingkat di bawah carbon. Kasian konsumennya, merasa tertipu… Yang direview apa, tapi yang dijual apa…

    Intinya kalau memang dari awal untuk barang produksi massal hanya spek yang standar2 saja, kenapa pas tes unit yang dilempar ke media justru yang kualitasnya ‘Wah!’… Masih menjadi misteri… πŸ˜€

    Suka

  6. espeed permalink
    24/07/2014 4:59 AM

    Masih rancu jawaban pihak YIMM…
    Gak ada sikap n jawaban yg menenangkan konsumen terhadap produknya yg ga sesuai produknya..
    Ngeles truuuuussss…

    Suka

  7. machalesana permalink
    24/07/2014 7:07 AM

    r25 bobot 166 power on crank 36 tapi on wheel 27 ilang 8 hp,
    ninja 250 bobot `172 on crank 32 on wheel 26 ilang 6 hp
    bobot lebih enteng kok ilangnya lebih banyak ya??
    kalo cuma beda 1 hp trus buatan lokal ya kira kira dong ngasih harganya ,dibegoin mulu nih orang indo, coba kalo di india ato thai ga laku ni motor

    Suka

  8. Bro_Jol permalink
    24/07/2014 9:02 AM

    seharusnya tes unit tahap akhir yg di tes otomotif ya sudah production unit tapi kenapa belum..??..alasan durability ndak masuk akal

    Suka

    • 24/07/2014 11:14 AM

      Naahh itu jadi tanda tanya
      Ya sekalian ini jadi pembelajaran kepada produsen otomotif Indonesia πŸ™‚

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: