Skip to content

Ducati Sulit Juara Lagi

14/08/2014

image

Ducati Corse, sebuah departemen elit di pabrikan Ducati, mereka dibangun khusus untuk men-develop motor balap, tapi kenapa sekarang kita tidak pernah melihat bendera Ducati di podium pertama?
Berikut opini dari jurnalis balap Mat Oxley yang saya sadur dari motor sport magazine

Sepuluh tahun lalu, Ducati adalah team juara. Mereka memenangkan race MotoGP dan World Superbike, menampilkan istilah David vs Goliath di setiap balapan. Tapi sekarang mereka tidak dapat memenangi satupun. Musim lalu mereka tidak memenangkan satupun race di WSB dan kemenangan terakhir Ducati di MotoGP adalah di seri Phillip Island di tahun 2010 oleh Casey Stoner!

image

Capirossi - Motegi, 2007

Kapan terakhir kalinya Ducati memenangi seri MotoGP tanpa bantuan Stoner? Jika kita lihat buku sejarah, hal itu terjadi dengan pembalap Loris Capirossi di Motego pada tahun 2007, dimana kemenangan itu terjadi karena strategi yang ciamik pada saat wet-dry race. Sudah 118 seri MotoGP setelah itu. Sepertinya Ducati telah lupa bagaimana men-design sebuah motor balap.

Saya beberapa kali pernah berbincang dengan beberapa mekanik dan engineers yang pernah bekerja di Ducati MotoGP team dan pabrikan Italy selama 3 musim ini. Mereka semua stress selama bekerja untuk motor Desmosedici. Mereka frustasi karena keanehan di motor itu. Salah satu mekanik yang sekarang kembali ke pekerjaan sebelumnya, menjelaskan kalau ia libur dan tidak mengerjakan Desmosedici itu seperti di ‘surga’. Artinya, motor itu adalah mimpi buruk bagi para pekerjanya dan juga bagi para pembalap.

Dari pengalaman mereka, sepertinya Ducati Corse telah lupa bagaimana cara untuk men-dsign motor balap akibat dari masalah ego dalam perusahaan : ketidak mauan untuk mempercayai bahwa ada yang salah, walaupun banyak bukti yang melawan mereka, dan ketidak mauan untuk mendengar nasihat dari orang orang yang sudah terbukti berhasil meraih kesuksesan lebih dari Ducati di ajang MotoGP.

image

Apakah motor yang susah untuk dikerjakan oleh mekanik atau engineers juga berpengaruh kepada kesuksesan? Jelas berpengaruh. Mekanik lain pernah berkata tentang penggunaan mur & baut yang berukuran 7mm, 8mm, 9mm dan 10mm di dalam Desmosedici. Ia pernah menyarankan kepada seorang engineers di Ducati kalau sebaiknya ukuran mur & baut hanya 2 ukuran, 8mm atau 10mm.

Engineer itu membalas: bagaimana ukuran sebuah mur dan baut membuat kita lebih cepat di track? Jadi si mekanik menjelaskan lebih lanjut : “Secara kasat mata saya tidak dapat secara tepat membedakan antara baut & mur ukuran 7mm dengan 8mm atau ukuran 9mm dengan 10mm, tetapi saya bisa membedakan secara tepat baut dan mur ukuran 8mm dengan 10mm. Jadi bila kita berada di tengah tengah sesi latihan resmi seri MotoGP yang berlangsung selama 45 menit dan kita mau merubah settingan shockbreaker, saya harus melihat secara rinci ukuran setiap baut dan mur yang ada di depan saya, jadi itu memakan waktu lebih dari biasanya”

“Jadi bila Honda dapat merubah settingan shock dua kali dalam sebuah sesi latihan. Sedangkan kita hanya bisa merubah sekali. Dan mungkin settingan kedua Honda itu merupakan settingan yang tepat yang dapat memangkas time lap sepersekian detik yang mengantarkan mereka juara.”

image

Sang engineer tidak menanggapi ide mekanik itu. Ia menganggap ngapain saya mendengar ide dari mekanik rendahan yang jabatannya dibawah saya. Jadi ukuran baut & mur 7-10mm tetap digunakan.

Saya berkata mekanik rendahan, karena ada orang lain yang mengatakan ke saya kalau mereka (mekanik) diperlakukan layaknya warga kelas dua oleh senior management. Disana ada kasta-kasta di Ducati. Ia menggunakan istilah ‘Derision’. Padahal, selain pembalap, mekanik adalah pasukan garda terdepan. Jika kamu tidak mendengar masukan mereka, maka kamu akan masalah, sama seperti pemimpin militer yang akan kalah bila tidak mau mendengar opini dari pasukan garda terdepan.

Ia menambahkan, kalau chief chassis engineers sangat jarang mengunjungi balapan, hanya membaca report balapan yang dikirimkan oleh team kepada race departemeny di Bologna. Hal itu tidak bagus katanya, karena chassis engineers perlu berada di track dalam setiap balapan, mendengar input dari para pembalapnya. Pembalap MotoGP yang pernah berada di belakang Crutchlow saat berada diatas jok GP14 berkata, kalau Crutchlow di setiap tikungan sering menggunakan dengkulnya untuk menahan motor, supaya ia tidak kehilangan traksi roda depannya. Hal ini jelas membuat seorang pembalap tidak maksimal di dalam balapan.
Seorang chassis engineers harus hadir di setiap balapan untuk mengetahui secara langsung untuk mengetahui kalau ada masalah saat motornya melewati setiap tikungan.

Saya pun pernah dianggap rendah oleh management Ducati. Beberapa tahun lalu, saya mendapat pekerjaan untuk salah satu sponsor mereka, yang memerlukan wawancara dengan boss Ducati. Ia menganggap rendah saya, Ia menganggap seperti saya mengharapkan uang dari mereka. Saya kira hal ini hanya terjadi pada saya sendiri. Tapi saya sekarang tau, bahwa saya tidak sendirian.

image

Stoner - Phillip Island 2010

Stoner pernah berkata kalau ia menghormati orang orang yang telah berkerja keras di pit box (mekanik Ducati MotoGP) tetapi ia sangat tidak menghormati orang orang yang duduk di Ducati Management. Valentino Rossi pernah berkata kalau engineers Ducati Corse tidak pernah mau menerima kritik mengenai motor yang dibangunnya, mereka akan tersinggung kalau kita mengkritik motornya. Jadi mereka tidak mau menerima opini yang bertujuan untuk membenahi masalah yang ada.

Hal ini membuat saya mengingat John Surtees sewaktu menjadi pembalap pabrikan Norton di tahun 50-an. Ia berbicara tentang budaya “mereka dan kita” antara management dengan mekanik dan pembalap. Dimana masukan dari dia yang tidak pernah didengar oleh management. Dan akhirnya kita tau bagaimana akhirnya team pabrikan Norton.

Mungkin sikap management seperti ini terjadi karena : pihak executive terlalu terlena dengan penghargaan yang pernah di dapatkan yang tidak dapat tersentuh – di berbagai hal – oleh para pekerja ‘kasar’ mereka.

image

Memang hal ini terjadi sebelum Dall’Igna bergabung di Ducati, karena komen pertama Ia setelah bergabung di Ducati Corse adalah mengkritik tentang kurangnya komunikasi antara pekerja di track dengan mereka yang bekeja di Borgo Panigale. Salah satu mekanik pernah memberikan pendapat ke saya : ‘mereka perlu meletakkan mesin pembuat kopi tepat di tengah tegah ruangan Ducati Corse, jadi engineers yang mendesign motor dan pekerja di track balap akan saling menyapa dan berbicara satu sama lain beberapa kali dalam sehari.

Ducati MotoGP co-ordinator Davide Tardozzi pernah berkata kalsu setiap mur dan baut di GP15 akan total baru, ini adalah berita bagus. Tapi pertanyaan sebenarnya bukan tentang apakah Dall’Igna bisa men design Desmosedici GP15 lebih bagus dari sebelumnya, tetapi apakah Ia sukses merubah budaya perusahaan dan menghilangkan ego para petinggi dan engineers?

Says berharap Dall’Igna bisa, karena saya merindukan saat dimana Loris Capirossi, Troy Bayliss dan Casey Stoner berhasil mengalahkan Honda dan Yamaha on their big red Ducatis.

Written by :
Mat Oxley
As a racer, Mat is an Isle of Man TT winner and
lap record holder. As a scribbler, he’s been at it
since the late 1980s and has written acclaimed
biographies of Valentino Rossi and Mick
Doohan – plus he’s an award-winning
commentator too.

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. Bro_Jol permalink
    14/08/2014 10:08 AM

    sebetulnya sepele..tapi karena sifat arogansi dan ego semua jadi serba salah..padahal klo di pikir2 Tuhan memberikan kita akal dan pikiran..mereka sendiri sebenarnya sudah tau pangkal masalahnya..cuman ya itu gara2 dua sifat di atas lupalah akal dan pikiran.
    kata Cak Lontong : MIKIR

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: